Rumahku Sekolahku


Ikutan Home Schooling
29 September 2006, 3:13 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

” Sekolah di rumah kedengarannya nyantai. Ternyata memang perlu alasan khusus untuk ikutan sekolah model gini. Kayak apa dan di mana aja sih sekolahnya ?

Pernah ada model cantik curhat. Katanya dia kadang enggak mampu mengikuti jadwal sekolah reguler yang bikin mumet. Soalnya, jadwal kariernya sebagai model juga enggak kalah padat. Bayangin aja, pemotretan atau syuting sinetron bisa menyita waktunya sampai larut malam, bahkan kadang sampai subuh. Akhirnya jadwal padat itu sering banget membuatnya nyerah bersekolah besok paginya.

“Aku sering enggak kuat bangun pagi. Akhirnya sering bolos. Susahnya, peraturan sekolah ketat banget. Jadi aku akhirnya keluar dari sekolah itu. Jujur aja, sekolahku yang sekarang lebih longgar untuk urusan absensi,” keluhnya. Akhirnya, sampai sekarang dia pun bertahan di sana dengan absensi yang bolong-bolong. Repot juga ya?

Sayang, si teman yang berprofesi sebagai model profesional tadi enggak tau soal adanya pendidikan luar sekolah yang bisa membantunya tetap bersekolah dengan benar. Coba dia kenal sama Dominique, model yang pernah jadi juara pertama Ajang Ajeng besutan MTV Indonesia. Cewek manis berkaki jenjang ini pernah ngalamin yang namanya susah ngatur jadwal.

Akhirnya, cewek ini pun sadar kalo udah enggak kuat ngatur jadwal sekolahnya. Dan home school langsung jadi pilihannya.

Sekolah di rumah? Nyantai dong? Nah, ini dia salahnya. Home school alias sekolah di rumah bukan berati nyantai. Justru dengan home school seorang siswa dituntut untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya. Soalnya, begitu memutuskan ikutan metode ini, kita udah harus punya jadwal sendiri untuk belajar. Kapan evaluasi dan kapan ujian. Lengah sedikit, pastinya kita ketinggalan.

Banyak Jenis

“Enaknya kalo home school itu ibarat sekolah malam. Jadi selesai gue kerja, gue tinggal belajar di rumah. Dan pelajarannya udah langsung dijurusin,” jelas Dominique waktu itu kepada Tim Muda waktu masih jadi siswi home school di Yayasan Bina Mekanika.

Yayasan pendidikan yang diikuti Dominique ternyata merupakan bagian dari program pemerintah yang disebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Badan penyelenggaranya udah ada ratusan di Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA).

Tujuan program ini adalah memberikan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal. Sasaran awalnya sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang kurang mampu, pengangguran, atau putus sekolah. Namun, belakangan, siswa dan siswi yang ingin mendapatkan layanan pendidikan home school bisa juga mendaftarkan ke sini.

“Jadwal memang bisa disepakati bersama. Yang penting waktu tatap mukanya minimal 5 x 3 jam per minggu. Jadi, mereka bisa memanggil tutor ke rumah. Mereka juga akan dibekali modul yang harus dipelajari dan dilatih sendiri,” ujar Chris Leniaty R, SH Branch Manager PKBM.

Makanya, begitu Dominique memilih program IPS sebagai minatnya, dia langsung mendapat modul PKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, tata negara, Sastra Indonesia, dan Ekonomi Akuntansi. Selain belajar di rumah, kadang dia juga datang untuk belajar di gedung Bina Mekanika di kawasan Kebayoran Lama.

“Enaknya lagi tuh langsung berupa latihan-latihan. Jadi memacu kita untuk cepat selesai. Sesekali, aku juga datang ke sana untuk ujian bersama atau kalo ada evaluasi,” tuturnya. Selain menawarkan program IPS, PKBM juga menawarkan program IPA dan Bahasa.

Nantinya, para siswa PKBM juga harus mengikuti ujian nasional seperti sekolah reguler. Bedanya, ijazahnya langsung dikeluarkan dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLSP (Pendidikan Luar Sekolah Pusat).

“Ujiannya pasti terpisah. Tapi ijazahnya resmi dan sangat susah untuk penyelewengan karena dikeluarkan dari pusat. Makanya, home school ini sebenernya lebih sulit untuk lulus,” jelas Ign Doni R, SH, SE AK.

Peran Ortu

Selain PKBM, ada salah satu lembaga penyelenggara home school yang lain, namanya Morning Star Academy. Lembaga yang mengacu pada kurikulum Franklin Classical School dari Amerika Serikat ini lebih mengedepankan peran orangtua di dalam pelaksanaan home school.

“Tapi kami bukan murni home school. Sistem belajar kami tiga hari di sekolah, sisanya belajar di rumah. Nah, begitu di rumah, orangtua berperan sebagai pengontrol dan penerapan pendidikan sekolah di rumah,” ujar Ibu Lilies Tjoandi dari Morning Star.

Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter siswanya.

Siswa lembaga pendidikan ini rata-rata punya kesibukan yang luar biasa. Selain sekolah, pasti ada minimal tiga kegiatan luar sekolah. Karena enggak yakin mengimbangi jadwal sekolah yang padat, mereka pun memilih lembaga ini.

“Di sini ada atlet tenis profesional, pebasket yang punya segudang kegiatan. Tapi di pelajaran, mereka semua jempolan,” ujar Ibu Lilies.

Herman “Noel” Sinaga contohnya. Cowok berusia 17 tahun ini adalah atlet basket yang pernah memperkuat tim Aspac Junior. Selain masih sering latihan basket, dia juga latihan vokal di Institut Musik Indonesia. Tapi basketlah yang membuat dia jadi bersungguh-sungguh menjalankan home school ini.

Pasalnya dia pengin banget masuk ke klub NBA New York Knicks. So, untuk bisa masuk ke sana, dia harus tembus ke college atau universitas di New York juga nantinya. Dengan home school berkurikulum Amerika Serikat inilah, dia rela melahap semua mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, Sastra, Humanity, Science, Logic, dan Mandarin. Oh iya, semuanya dengan pengantar bahasa Inggris tentunya!

“Awalnya juga aneh. Kok ada sekolah di rumah segala. Tapi setelah dijalanin, kayaknya emang lebih bagus. Karena selain gue bisa belajar, latihan basket pun jalan terus,” ujar cowok tinggi besar ini mantap.

Untungnya, si Noel ini juga enggak lantas tergoda untuk bermalas-malasan. Soalnya, ibunya udah mewanti-wanti untuk mengikuti home school ini dengan serius.
“Begitu saatnya belajar di rumah, nyokap gue tuh udah ngasih kepercayaan ke gue. Sekalian ngontrol pelajaran gue dan bilang, percuma, katanya, kalo mau jadi atlet di Amerika kalo di sini udah enggak mau bertanggung jawab. Makanya, gue langsung enggak enaklah diomongin kayak begitu,” beber cowok berkulit gelap ini tegas.

Nah, jadi tau kan sekarang! Dengan home school tuh emang bukan lantas malah jadi nyantai. Sekolah model gini cuma alat untuk membantu kita mendapatkan pendidikan dengan nyaman di balik kegiatan kita yang superbanyak.

Toh, intinya tanggung jawab ada di tangan kita sendiri. Bisa jadi pilihan, kan?

Oleh : Yorgi Gusman Tim Muda

Sumber : Kompas



Bersekolah Belajar di Rumah
29 September 2006, 2:34 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

Belajar di rumah lebih relaks dibandingkan dengan belajar di sekolah. Bagaimana hasilnya ?

Hampir seratus tahun lampau Rabindranath Tagore, peraih Nobel Sastra tahun 1913, menyelorohkan ucapan bernada pahit itu. ”Sekolah adalah siksaan tak tertahankan.” Dan Tagore tak keliru.

Di Indonesia, mungkin juga tempat lainnya, serapah Tagore telah mewujud sejak lama. Ketika siksaan seolah tak tertahankan, maka sekolah dan ‘penjara’ bagai dua entitas yang sulit dibedakan.

Tapi siapa bilang sekolah selamanya harus seperti ‘penjara’? Bagi Ratna Megawangi ‘penjara’ itu harus dirubuhkan. Tak tega melihat anaknya stres akibat banyaknya pekerjaan rumah, dan buntutnya jadi kehilangan semangat belajar, Ratna mengambil langkah berani.

Dikabulkannya keinginan si anak, yang saat itu kelas satu SMA, keluar dari sekolah. Lantas, Ratna pun membangun sendiri ‘sekolah’ di rumahnya yang asri. Didatangkannya guru privat jempolan.

Sejak saat itu si anak belajar di rumah. Tak lagi ada mata pelajaran yang padat, penyajian materi yang membosankan, atau bangku kelas yang keras. Kini ia bisa berselonjor di atas karpet, sambil menyimak uraian matematika, fisika, atau Bahasa Inggris bak dendangan dawai yang menenangkan.

Dan perubahan itu tampak jelas. ”Ia tampak bahagia sekali, gairah belajarnya malah jadi menggebu-gebu. Anehnya, jika sewaktu di sekolah ia tidak mahir berbahasa Inggris, kini setelah belajar di rumah ia fasih berbahasa Inggris dalam tempo cepat,” tutur Ratna yang istri Menkominfo Sofyan Jalil itu, Kamis (5/5).

Seperti Ratna, Yayah Komariah SPd, seorang mantan guru SD, juga mengambil langkah berani itu. Rumahnya di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kini tak lagi sekadar menjadi tempat tidur atau makan bagi anak-anaknya, tapi sekaligus tempat belajar.

Setiap pagi, empat anaknya (kelas 1 dan 2 SD serta setingkat TK) tak berangkat ke sekolah seperti lazimnya anak-anak seusia mereka. Alih-alih berpanas-panasan ikut upacara bendera, mereka malah berselonjor bebas di ruang tengah rumahnya, sembari menyimak ocehan sang guru. Pengajarnya? Tak lain sang ibu mereka, Yayah, yang berpengalaman jadi guru SD selama 10 tahun.

Bagaimana Yayah menyelenggarakan pendidikan di rumahnya? Kurikulumnya, kata Yayah, tetap berbasis kurikulum nasional, namun dengan inovasi di sana-sini, terutama porsi praktik dan mobilitas yang diperbanyak. Betapa cerianya Yayah dan anak-anaknya.

Untuk mengajarkan materi transportasi, misalnya, si anak –beserta enam anak lain tetangganya– harus turun langsung ke jalan. Semua alat transportasi dijajal, dari ojek motor, kereta api, hingga busway.

Lantas mereka diminta menceritakan pengalamannya itu dalam bentuk narasi, sekaligus belajar Bahasa Indonesia. Mereka disuruh menghitung jumlah roda bus Transjakarta, sekaligus belajar matematika.

”Kegiatan belajar dibuat fun. Mereka juga langsung bersentuhan dengan realitas, sehingga bukan melulu teori. Ini membuat mereka lebih ceria dan menjadi lebih kreatif. Potensinya mereka bisa dimunculkan,” tutur Yayah.

Bukan cuma Ratna atau Yayah, psikolog kondang, Dr Seto Mulyadi, termasuk yang setuju betul terhadap metode homeschooling alias belajar di rumah itu. Beberapa waktu ini, anak Seto yang setingkat SMA, tak lagi belajar di sekolah umum melainkan menjadi homescholler. ”Sekarang dia malah akan mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta,” paparnya.

Bangkitkan potensi

Inilah tren pendidikan anyar di Indonesia, yang boleh dibilang antitesis terhadap metode pendidikan konvensional yang terbilang ‘gagal mencerahkan’. Seringkali anak malah gagal mengembangkan potensinya.

”Berapa banyak anak yang sewaktu kecil tampak semangat belajar, namun ketika masuk ke sekolah malah jadi pemalas dan pemalu. Padahal mereka punya hak untuk berkembang,” tutur Seto di sela-sela pendeklarasian Asosiasi Homeschooling dan Pendidikan Alternatif (ASAH PENA) di Jakarta, Kamis (5/5).

Keluhan terhadap sistem pendidikan di negeri ini memang seabrek. Jam mata pelajaran yang melimpah, adalah salah satu alasan murid menjadi luar biasa jenuh. Jika UNESCO menyaratkan 800-900 jam pelajaran per tahun untuk SD, Indonesia malah memberlakukan 1.400-an jam per tahun. Sekolah tak lagi menyenangkan.

Belum lagi cara penyampaian yang kurang kreatif, otoriter, atau pekerjaan rumah yang segudang. ”Pembelajaran otoriter (murid harus bisa semua pelajaran) seringkali membuat sekolah menjadi beban. Padahal, jangan sampai anak layu sebelum berkembang,” papar Ratna.

Di homeschooling, pendekatan yang diberikan adalah sebaliknya. Siswa tidak dipaksa harus mampu di satu mata pelajaran, seperti matematika, misalnya. Jika dia berbakat di bidang lain, seperti bahasa, maka itulah yang harus dikembangkan.

Setiap anak, kata Seto, unik. Karena itulah, di homeschooling yang diterapkan adalah pendekatan individual. ”Ini justru lebih dapat membangunkan potensi mereka. Ini kelak membuat konsep diri yang positif pada si anak,” paparnya.

Seto, yang melakukan homeschooling, menyatakan bahwa materi kurikulum seratus persen mengacu pada kurikulum nasional yang mencakup lima materi. Yakni iptek, kewarganegaraan, keolahragaan, etika, dan estetika. ”Hanya, metodenya berbeda. Sekolah dibuat seperti tamasya yang menyenangkan,” kata dia.

Saat ini Seto tengah berjuang agar Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengeluarkan standar minimal homeschooling di Indonesia. Maksudnya supaya metode ini memperoleh pengakuan yang lebih besar.

Menurut Seto, program homeschooling bukanlah barang baru. Banyak tokoh dunia yang berangkat dari model pendidikan seperti begini. Sebut saja mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan Theodore Roosevelt, Alexander Graham Bell (penemu telepon), atau pahlawan nasional KH Agus Salim. Siapa bilang sekolah formal jalan satu-satunya buat pintar?

Ikhtisar :
- Daripada anak tersiksa di sekolah, orang tua menyilakan anaknya berhenti bersekolah.
- Dengan bimbingan orang tua, anak belajar di rumah dengan materi berdasarkan kurikulum nasional.
- Ratna Megawati dan Seto Mulyadi termasuk orang tua yang mengajar anaknya di rumah.
- Murid sekolah rumah boleh ikut ujian persamaan.

Orang Tua Harus Kompeten

Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas, Ella Yulailawati, homeschooling sudah diatur dalam UU Sisdiknas, dan dikategorikan dalam jenis pendidikan informal atau nonformal. Peserta, menurut dia, dapat mengikuti ujian kesetaraan lewat ujian paket A, B, atau C.

Hanya, menurut dia, perlu ada verifikasi apakah sang pengajar benar-benar kompeten untuk menggantikan materi belajar di sekolah biasa. Selain itu, Depdiknas juga perlu tahu komitmen si orang tua untuk dapat menyajikan pendidikan berkesinambungan buat anaknya (letter of comitment).

Hingga akhirnya mengikuti ujian keseteraan, hasil pendidikan si anak perlu dilaporkan secara rutin kepada dinas pendidikan setempat. ”Kita sedang buat aturan petunjuk pelaksanaannya, termasuk supaya si anak tidak perlu ikut kegiatan belajar mengajar di kejar paket A, B, dan C, seperti aturan saat ini,” kata Ella.

Meski mengandung sejumlah keunggulan, menurut Ella, homeschooling juga memiliki beberapa kelemahan. ”Dengan belajar di sekolah umum, kita bertemua banyak orang dan realitas sesungguhnya. Itu unik, dan si anak diajarkan untuk berkompetisi sejak awal,” paparnya. (imy )

Sumber : Republika



Lebih Jauh tentang Homeschooling
29 September 2006, 2:13 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

Orang tua harus berkaca diri dulu sebelum menyelenggarakan sekolah rumah bagi sang buah hati.

Homeschooling (sekolah rumah) saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya. Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.

Sekolah rumah, menurut Ella Yulaelawati, direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif.

Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama dikemukakan oleh Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, saat keduanya tampil berbicara dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (22/7) lalu.

Pembelajaran kreatif

Ella mengakui, ada beberapa alasan orang tua di Indonesia memilih sekolah rumah. Antara lain, dapat menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, memberikan lingkungan sosial dan suasana belajar yang baik, dan dapat memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.

Menurut Seto, sekolah rumah memiliki keunggulan karena bimbingan dan layanan pengajaran dilakukan secara individual. Proses pembelajaran lebih bermakna karena terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, waktunya pun lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kesiapan anak dan orang tua.

Seto mengatakan, menyelenggarakan sekolah rumah menuntut kemauan orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak. Sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.

Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orang tua tidak bisa menjadi guru, orang tua harus tahu segalanya, orang tua harus meluangkan waktu 8 jam sehari, waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri, tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. `’Itu keliru,” ucapnya.

Teman belajar

Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orang tua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. `’Orang tua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini,” tuturnya.

Anak, kata Seto, perlu bermain. Itu yang perlu dipahami oleh orang tua. Karena itu pula, orang tua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah.

Orang tua, kata Seto lagi, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu. Yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orang tua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orang tua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar.

Bagaimana dengan kedua orang tua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, itu tidak boleh menjadi alasan.

Sesibuk apa pun orang tua, tetap harus punya waktu untuk anak. `’Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak,” ucap psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.

Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional. Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. Standar kompetensi ini, kata Seto, dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing.

Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. Pada dasarnya, kata Seto, dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada untuk proses evaluasi. Menurut dia, harusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Homeschooling seusai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). (-bur)

Sumber : Republika



Sekolah Rumah, Siapa Mau Coba ?
29 September 2006, 1:52 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

Beginilah suasana ketika Deviana sedang mengajar Nindya Putri Catur Permata Sari, putri bungsunya. Istri Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi ini mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, tidak menyekolahkan mereka di sekolah umum. Materi yang ia ajarkan kali ini adalah teori evolusi yang ditemukan oleh Charles Darwin. Suasana belajar-mengajar di rumah dibuat sangat santai, diiringi candaan dan kadang-kadang sambil menjalankan aktivitas sehari-hari. Walaupun pelajaran dibuat santai, Dea, panggilan akrab Nindya, menyimak pelajaran yang diberikan ibunya dengan antusias.

Seto Mulyadi atau Kak Seto sudah lama mempraktekkan home-schooling atau sekolah rumah bagi anak-anak. Konsep sekolah rumah memang unik. Menurut Kak Seto, keluarganya menerapkan sekolah rumah bagi anak-anaknya sejak tiga tahun lalu. Awalnya, Minuk, anak pertama, mengalami tekanan di sekolah karena dihukum gurunya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama favorit di Jakarta.

“Lalu dia menyampaikan pada ibunya. Mula-mula dipaksa ibunya. Tetapi tetap tidak mau, dan mengatakan lebih baik saya ke sekolah tapi tidak belajar, atau saya di rumah tapi saya belajar? Akhirnya, ya sudah, dengan mengingat hak anak, mengedepankan yang terbaik bagi anak, akhirnya saya beri kesempatan Minuk tetap berada di rumah. Tetapi dia menjalankan aktivitas belajarnya,” Kak Seto menjelaskan ihwal mula mempraktekkan sekolah rumah.

Menurut Kak Seto, berkat konsep sekolah rumah dengan kurikulum yang disusun bersama, motivasi belajar muncul dari dalam diri putrinya. Belajar sambil bermain, membuat anak merasa nyaman, meskipun belajar sepanjang hari.

“Anak-anak jadi senang belajar dengan motivasi internal, motivasi dari anak itu sendiri. Sehingga kegiatan home schooling ini, jika ditanya kapan belajarnya, dari bagun tidur sampai tidur lagi. Di mana belajarnya? Di mana saja! Bisa di kamar tidur, ruang tengah, kamar tamu, di halaman, atau juga di luar. Entah pergi ke sawah, ke panti asuhan, penitipan bayi-bayi telantar, sampai mungkin juga belajar di mal. Tapi yang penting, anak-anak dilibatkan untuk menyusun kurikulumnya, mencari sumber belajar,” Kak Seto menambahkan.

Bagi Dhea, belajar di rumah sangat menyenangkan. Ia mengaku ingin terus belajar di rumah sampai menyelesaikan pendidikan setara sekolah menengah umum.

“Kayaknya, seterusnya sampai SMP, SMA, sampai kapan aja gitu. Aku pingin home schooling. Soalnya waktu itu ngeliat Kak Minuk, terus jadi gimana gitu. Sekolah formal, aku takut! Kayaknya, Kak Minuk sampai stres waktu itu. Waktu kelas SMA, kayaknya, sempet stres. Terus aku nggak mau, mau terus home scholing aja,” tutur Dhea.

Bagi kebanyakan orang, menempuh pendidikan formal masih merupakan pilihan utama. Bahkan, lembaga pendidikan formal yang tergolong favorit masih jadi incaran kebanyakan siswa dan orang tua.

Vanny, misalnya. Siswa SMU 70 Jakarta Selatan ini tetap memilih belajar di sekolah formal. Bagi dia, masuk salah satu SMU favorit di Jakarta merupakan cita-citanya sejak dulu. Dengan masuk SMU favorit, Vanny berharap peluang untuk belajar di perguruan tinggi ternama akan lebih terbuka.

“Di rumah tuh gak punya temen, ya jadi gak bergaul aja. Trus biasanya kualitasnya kan beda kalau sekolah di rumah. Kalau di sekolah kan ada kurikulumnya, gitu. Kalo di rumah kan gak jelas, gitu. Gak mau karena kebanyakan sekolahnya di sekolah, bukan di rumah,” kata Vanny.

Begitu juga Danista, rekan Vanny. Dia justru menikmati belajar di sekolah formal dan mengaku bosan tinggal di rumah. Dia sama sekali tidak ingin belajar di rumah. “Ngapain di rumah juga. Di rumah bosenlah,” jelasnya.

Randi, pelajar SMU yang lain, juga demikian. Baginya, belajar di rumah bukan hal yang menyenangkan. Kata Randi, ada hal yang tidak didapat di rumahnya, yaitu pertemanan. Baginya, sosialisasi dengan teman-teman di sekolah merupakan kebutuhan yang penting.

“Belajar di rumah ya gak enak aja. Kalo di sekolah formal gini, selain belajar, kayak ada pergaulannya, gitu….” kata Randi.

Pemerintah sendiri mengakui keberadaan sekolah rumah sebagai salah satu jalur pendidikan yang sah. Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional, Ella Yuleawati, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional membuka banyak jalur pendidikan yang bisa ditempuh, termasuk sekolah rumah.

TetapiElla juga mengingatkan, untuk menjalankan konsep sekolah rumah, orang tua harus memiliki komitmen yang kuat. Banyak orang tua yang tidak memiliki komitmen yang kuat dalam mempraktekkan sekolah rumah, sehingga tidak membimbing anaknya secara maksimal. Kesibukan orang tua juga merupakan salah satu hambatan dalam mendidik anak.

“Saya katakan, itu pendidikan informal sekolah rumah, kalau masyarakat memilih itu, apakah betul? Itu tidak mudah loh. Sekarang ini mungkin orang sangat terkesima begini begitu. Berpikirnya mudah, kayak jadi trend seter, gitu. Kalau sekolah rumah, tinggal hati-hati. Saya sendiri belum tentu, memang saya belum tentu. Tapi, saya memang tidak bisa. Kan anak saya dua-duanya di ITB dengan bantuan sekolah formal,” kata Ella.

Mendidik sendiri anak di rumah bukan perkara gampang. Menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Arief Rahman Hakim, orang tua yang ingin menjalankan konsep pendidikan rumah harus memenuhi tiga syarat. Pertama, syarat akademis, yaitu memiliki latar belakang pendidikan yang cukup. Kedua, syarat psikologis, yaitu memiliki jiwa pendidik. Dan terakhir, harus memiliki syarat pedadogis, yaitu keahlian menularkan pengetahuan kepada orang lain. Selain itu, menurut Kepala Lab School di Rawamangun ini, praktisi sekolah rumah juga harus memiliki program pelajaran dan sistem evaluasi yang jelas.

“Saya tidak mengatakan setiap orang itu bisa atau tidak, tapi kalau mau melaksanakan home schooling, ketiga syarat itu harus dipenuhi,” katanya.

Kriteria seperti yang disampaikan Arief Rahman Hakim memang dimiliki Deviana, istri Kak Seto. Menurut Deviana, dia memiliki program yang jelas dan mendidik anaknya berdasarkan kurikulum nasional. Dia juga mengaku menerapkan sistem evaluasi untuk mengukur capaian yang ditempuh kedua putrinya.

“Saya pakai cara saya sendiri. Sudah mengerti apa belum, misalnya, sambil bermain juga kadang mereka buat soal. Oh, mereka sudah mengerti soal ini. Kalau sudah bisa buat soal, berarti sudah mengerti. Jadi, mereka kadang membuat soal. Menyerapnya lebih dari yang diajarkan. Tidak formal pakai angka. Yang penting standarnya sampai, standar kurikulum nasional,” kata istri Seto Mulyadi ini.

Bagi Kak Seto, mempraktekkan sekolah rumah memang tidak gampang. Dia mengingatkan kepada semua orang tua yang akan menjalankan praktek sekolah rumah agar memahami benar makna pendidikan. Walaupun kini banyak kalangan kelas terdidik di Jakarta yang menerapkan sekolah rumah, dia mengingatkan jangan sampai sekolah rumah sekadar menjadi gagah-gagahan.

“Pertama harus memahami makna dari pendidikan. Bukan sekadar menjejalkan beragam informasi atau pelajaran kepada kepala yang seolah-olah kosong. Tapi makna pendidikan adalah justru mengeluarkan atau memberdayakan potensi-potensi unggul yangg dimiliki oleh setiap anak yangg saling berbeda. Kedua, punya komitmen, bahwa ortu yang jadi koordinator dan fasilitator dari kegiatan sekolah rumah. Penaggung jawab adalah tetap ortu. Berarti mempelajari isi kurikulum. Kemudian juga mencoba untuk menjabarkan secara kreatif sesuai dengan kondisi anak-anak yang saling berbeda. Kemudian harus mampu bekerja sama baik dengan anak maupun dengan pihak-pihak lain, termasuk jaringan sekolah rumah,” Kak Seto memberi kiat bagi orang tua yang ingin membuat sekolah rumah.

Sekolah rumah atau home-schooling tampaknya sudah menjadi alternatif di tengah-tengah buruknya sistem pendidikan formal. Beberapa selebritas, seperti Neno Warisman, juga mempraktekkan sekolah rumah untuk anak-anaknya. Dewi Hughes yang belum mempunyai anak tapi peduli pada dunia pendidikan pun tertarik. Mereka bahkan membentuk Asa Pena, asosiasi sekolah rumah, sebagai wadah bertukar informasi sesama praktisi sekolah rumah. (Liza Desylanhi/E2)

Sumber : http://www.vhrmedia.net



“Home Schooling” Model Pendidikan Alternatif
29 September 2006, 1:43 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

Ditengah keraguan terhadap mutu pendidikan nasional, sekaligus mahalnya biaya sekolah berstandar internasional, kini banyak orangtua yang beralih menyekolahkan anak-anaknya di rumah melalui program yang dinamai homeschooling.

Program yang sebenarnya belajar jarak jauh ini materinya disediakan oleh sebuah institusi pendidikan pengelola yang juga akan bertugas menguji para peserta di akhir táhun ajaran yang telah ditentukan untuk kénaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat.

Sebenarnya home schooling di Indonesia telah ada sejak dulu, hanya saja dulu namanya berbeda. Belajar jarak jauh semacam e-learning, atau pola pendidikan SMU atau Universitas Terbuka, bahkan Pendidikan Kejar (Kelompok Belajar) Paket A & B itu dapat digolongkan sebagai home schooling. Pada prinsipnya, home schooling ini merupakan pendidikan alternatif dengan menekankan pola kurikulum yang lebih fleksibel dalam pengajarannya.

Hal ini karena awal pembentukan home schooling itu sendiri di Amerika Serikat (AS) merupakan wujud pengawasan preventif orangtua terhadap anak-anaknya karena lembaga sekolah di sana dinilai sudah tidak bisa lagi menjadi lembaga pembelajaran yang sehat. Misalnya — berdasarkan kasus yang sering terjadi– sekolah tidak jarang menjadi ajang perkelahian dan peredaran obat bius. Oleh karena itu para orangtua kemudian berkumpul untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Semula memang dikelola oleh orangtua sendiri, namun selanjutnya berkembang dengan mendatangkan pengajar ke rumah, layaknya model pendidikan anak-anak keluarga bangsawan zaman dulu.

Untuk menerapkan kurikuurn home schooling ini di Indonesia, seharusnya tidak perlu meniru pola pengajaran yang diterapkan di AS karena belum tentu cocok. Dengan difasilitasi pêmerintah, bila nantinya home schooling telah makin diminati di negeri ini, ada baiknya para orangtua membentuk komunitas mandiri yang khusus mengelola pendidikan alternatif ini dengan memasukkan muatan-muatan khusus, misalnya pendidikan untuk mengenal tanah air dan budayanya, pendidikan kesenian, kecintaan membaca, dan lain-lain.

Alasan lain orangtua menerapkan home schooling adalah keinginan untuk memberi kebebasan kepada anak-anak mereka tentang hal-hal yang ingin dipelajari lebih banyak sesuai bakat dan minat masing-masing.

“ Biarkan anak-anak bereksplorasi dengan berbagai macam hal. Kelasnya bisa di dapur, halaman belakang, sawah dekat rumah, atau di mana saja, ” begitu ujar salah seorang orangtua yang telah mantap memutuskan untuk memilih home schooling.

Namun home schooling ini tentunya mengandung konsekuensi, yaitu orangtua harus benar-benar mendampingi anak dalam belajar dan bereksplorasi untuk menyerap ilmu. (CHK)

Sumber : Kompas



Menimbang Sekolah Rumahan
29 September 2006, 1:35 pm
Filed under: HomeSchooling Articles

” Apakah akan datang suatu ketika guru manusia adalah alam, kemanusiaan adalah bukunya, dan kehidupan adalah sekolahnya? “

Pertanyaan Kahlil Gibran ini bukanlah hal yang utopis atau tidak pernah kita temui dalam kehidupan nyata. Penyair besar kelahiran Lebanon itu tidak sekadar meramal atau bertanya sekenanya saja.

Di balik pertanyaan itu terkandung makna yang sangat mendalam dan menjadi renungan bagi setiap generasi, bahwa proses pendidikan yang dicapai sesungguhnya bukanlah diukur dari seberapa tinggi jenjang pendidikan formal yang ditempuh oleh seseorang atau seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dikuasai.

Namun, sejatinya pendidikan yang sebenarnya adalah bagaimana menjalani dan memaknai kehidupan ini sebagai manusia pembelajar sepanjang hayat karena pada hakikatnya kita tidak pernah purna untuk menamatkan “sekolah” kehidupan ini.

Munculnya fenomena sekolah rumahan (home schooling) empat tahun terakhir seakan menemukan konteksnya apabila dihubungkan dengan pertanyaan Kahlil Gibran di atas. Karena dengan mengajak anak-anak belajar di luar bingkai sekolah formal, mereka akan tergiring untuk menyadari bahwa proses belajar itu tidak pernah ada batasnya; bahwa sekolah formal itu hanya salah satu di antara banyak cara dalam memperoleh life skill sebagai bekal untuk menapaki masa depan mereka.

Secara historis, ada sederet nama pahlawan nasional dan tokoh pendidikan bangsa ini yang merupakan produk dari sekolah rumahan, seperti Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, serta Buya Hamka. Sepanjang hidup mereka didedikasikan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka tidak mengenal kata “lulus” dalam “sekolah kehidupan” ini.

Ada beberapa lembaga seperti Morning Star Academy dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Bina Mekanika, tokoh pendidikan anak, Kak Seto Mulyadi; serta pendongeng Kak Wees yang telah menerapkan sistem belajar sekolah rumahan ini.

Kecenderungan untuk menerapkan sistem belajar home schooling ini diakibatkan oleh adanya rasa ketidakpercayaan kepada sekolah formal karena kurikulumnya terus berubah dan memberatkan anak, menganggap anak sebagai obyek bukan subyek, memasung kreativitas dan kecerdasan anak, baik dari segi emosi, moral, maupun spiritual (Tempo, 26/2/2006). Sebenarnya, secara operasional, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengakui sistem sekolah rumahan, tetapi pemerintah masih belum melakukan standardisasi terhadap sistem belajar ini.

Tanpa menafikan peran sekolah formal dalam usaha memperbaiki kualitas pendidikan bangsa Indonesia, melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi cerita mengenai sisi-sisi positif dari sekolah rumahan sebagai upaya alternatif bagi proses perbaikan kualitas pendidikan bangsa ini.

Selama lebih kurang dua tahun, saya mencoba menerapkan sistem belajar home schooling kepada keponakan-keponakan saya di rumah, mereka diajak untuk belajar bersama di luar jam sekolah. Boleh dikatakan bahwa apa yang saya kembangkan tidak sepenuhnya menggunakan sistem belajar sekolah rumahan karena mereka tidak sepenuhnya lepas dari sistem pendidikan formal.

Berdasarkan pengalaman selama menemani mereka belajar bersama di rumah, ada beberapa hal yang bisa dipetik.

Pertama, belajar di rumah lebih menyenangkan; jumlah mata pelajaran yang dibebankan kepada peserta didik di sekolah formal saat ini sangatlah memberatkan, ketika mereka merasa terbebani untuk mempelajari suatu bidang studi, bukan rasa ingin tahu yang muncul dalam benak mereka, melainkan setumpuk beban pengetahuan yang harus ia jejalkan ke dalam otaknya.

Dengan beban seperti itu, mereka akan enggan dan ogah- ogahan untuk membaca dan mengembangkan pengetahuannya sendiri, apalagi misalnya di sekolah mereka lebih banyak menerima pengetahuan dengan proses satu arah (spoon feeding).

Naifnya, ketika peserta didik tidak mampu menyerap pelajaran di ruang kelas, mereka diajak untuk belajar lagi di luar kelas, misalnya dengan mengikuti les, pelajaran tambahan, ataupun bimbingan belajar, padahal bidang studi yang mereka pelajari sama dengan yang mereka pelajari di ruang kelas.

Sistem belajar seperti ini tidak hanya menambah beban bagi mereka, tetapi juga akan membuat mereka merasa jemu dan bosan karena ada proses pengulangan (repetisi) bahan pelajaran.

Namun, dengan sistem belajar home schooling, mereka akan belajar lebih menyenangkan karena menerima pelajaran dengan rasa ingin tahu dan tidak ada beban untuk mempelajarinya. Hal ini penting untuk proses berpikir mereka ke depan karena akan terus mengembangkan pengetahuannya tanpa harus dibatasi oleh ruang (jenjang pendidikan) dan waktu (belajar sepanjang hayat).

Dengan demikian, mereka akan mempunyai kebebasan berpikir dan berkreasi sesuai dengan bakat dan minat yang mereka kenali dan tekuni.

Kedua, belajar di rumah akan mendukung terhadap terciptanya lingkungan yang lebih komunikatif antar anggota keluarga. Di tengah kecenderungan merenggangnya rasa kekerabatan dan kekeluargaan, terutama di daerah urban, menyediakan ruang belajar terbuka di rumah akan kembali menumbuhkan dan mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan.

Selain itu, mereka juga akan belajar lebih kooperatif, tak hanya mementingkan keberadaan dan prestasinya sendiri, tetapi juga dengan sendirinya akan membantu kesulitan yang dihadapi oleh saudara-saudaranya.

Hal ini berbeda dengan target pencapaian yang selama ini dikembangkan di sekolah formal yang hanya mementingkan nilai, sehingga tak jarang para siswa akan berusaha mempertaruhkan apa pun untuk memperoleh nilai yang tinggi dengan cara curang, menyontek misalnya.

Cara belajar seperti ini justru akan menghambat cara berpikir positif dan cara menghadapi masa depan kehidupannya; mereka akan cenderung mencari jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan hidup.

Ketiga, belajar di rumah akan mendukung terhadap proses kematangan jiwa anak. Hampir seluruh perkembangan kejiwaan anak bisa ter-cover karena lebih gampang memantau dan mengomunikasikan dengan pihak orangtua. Jadi, hambatan belajar mereka, baik secara fisik maupun psikis, relatif lebih cepat diketahui dan dipecahkan. Proses kematangan jiwa ini sangatlah membantu terhadap rasa kepercayaan diri untuk selalu belajar dan berjuang demi kemajuan diri dan bangsanya.
Keempat, mengajak anak-anak untuk tidak hanya berkutat dengan buku-buku, misalnya mereka diajak belajar di alam terbuka seperti di daerah persawahan, sungai, ataupun hutan, dalam artian apa yang mereka baca dan pelajari coba disinggungkan dan didiskusikan dengan keadaan sekitar.

Melalui cara belajar seperti itu, lambat laun mereka akan mempunyai kesadaran bahwa pengetahuan yang diperoleh akan betul-betul diketahui manfaat dan fungsinya dalam kehidupan mereka; tidak sebatas pengetahuan kognitif yang menumpuk di dalam otak mereka. Dengan demikian, pada akhirnya mereka akan mempunyai kepekaan terhadap persoalan-persoalan di sekeliling mereka.

Oleh: Mohammad Hasan Basri Guru SMA I Annuqayah Guluk-guluk Sumenep; Tengah Merintis Taman Belajar “Insan Fitri” di Madura

Sumber : Kompas



Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku
29 September 2006, 3:44 am
Filed under: HomeSchooling Articles

MENDAPATKAN pendidikan yang baik untuk anak adalah keinginan setiap orangtua. Bermacam-macam jenis sekolah tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan beragam nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya.

Ada yang memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, menggunakan gedung bertingkat dengan ruangan ber-AC, hingga sekolah yang mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Departemen Pendidikan Nasional.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan.

Namun, semua kritik itu seperti angin, berlalu begitu saja. Tidak ada perubahan berarti. Sebagian orangtua lalu mencari alternatif pendidikan. Salah satunya dengan bersekolah di rumah (homeschooling).

“Saya termasuk orangtua yang tidak puas dengan sistem pendidikan kita. Sudah berapa banyak sekolah yang saya datangi, hingga yang internasional, ternyata tidak memuaskan juga. Akhirnya saya putuskan untuk mengajar sendiri anak-anak saya,” kata Wanti Wowor (39), ibu empat anak.

Wanti memiliki banyak alasan memutuskan mengeluarkan anak-anak dari sekolah umum.

Pertama, dia merasa sistem pendidikan di sekolah hanya mengejar nilai rapor. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat, bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak (atau orangtua) mencontek dan membeli ijazah palsu.

“Anak pertama saya, Fini, memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan Fina, adiknya, untuk memahami sebuah persoalan. Hal ini bukan berarti Fini tidak pandai, tetapi dia memerlukan waktu atau cara lain untuk mengerti hal baru. Ini yang sering tidak dipahami guru. Guru tidak sempat memberi perhatian kepada murid satu per satu karena yang jadi tanggung jawabnya banyak sekali,” ungkap Wanti menjelaskan.

Kedua, dalam hal pergaulan banyak murid yang mencari identitas dari teman, bukan pada diri sendiri. “Banyak murid yang terjebak, dia harus mempunyai barang yang sama dengan temannya agar diterima pergaulan, atau biar dibilang keren oleh teman. Ini kan tidak benar. Identitas kok ditentukan teman, bukan diri sendiri. Ini baru barang, bagaimana dengan narkoba,” ujar Wanti.

Dia juga melihat orang belajar karena kebiasaan masyarakat, bukan keinginan atau kesadaran dari diri. Misalnya, sehabis SD harus dilanjutkan SMP, lalu SMA, terus kuliah. Banyak orangtua yang sudah menyadari kelebihan anaknya, namun anak tetap harus menempuh semua jenjang pendidikan formal. Sedangkan eksplorasi pada kelebihan anak agak diabaikan karena memandang pendidikan formal lebih penting. Akibatnya, anak tidak merasa senang bersekolah karena dia tidak tahu tujuan belajar di sekolah.

Joseph Tjoandi (46), ayah empat anak yang juga menyekolahkan anaknya di rumah, merasa prihatin ketika melihat anaknya setiap hari pulang membawa kertas ulangan. “Anak saya belajar terus karena akan ulangan. Belajar itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan beban karena besok ulangan. Anak saya tampak tertekan karena setiap hari ulangan bisa lebih dari dua, masih ditambah PR seabrek-abrek. Hidup seperti tidak menyenangkan bagi dia,” kata Joseph yang semula sempat ragu karena memiliki empat anak dan si bungsu masih bayi.

Sempat juga terpikir oleh Wanti mengirim anaknya bersekolah di luar negeri. Namun, dia khawatir jika anak berusia dini dikirim ke luar negeri, jati dirinya sebagai orang Indonesia tidak tumbuh. Dia tidak akan mengenal dan bisa jadi tak mau kembali ke Indonesia.

Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

“Bersekolah di rumah banyak dilakukan di AS (Amerika Serikat). Di sana juga sudah tersedia kurikulum untuk itu. Kebetulan saya mempunyai banyak teman di AS yang membantu mengirimkan silabus dan buku-bukunya,” kata Wanti yang mengaku gemar mengajar.

Walau banyak tahu tentang bersekolah di rumah, Wanti perlu dua tahun untuk mempersiapkan diri. Dia juga harus siap menghadapi keluarga yang tentu menentangnya. “Saya sampai dikatakan gila oleh suami saya. Katanya, saya mempertaruhkan masa depan anak-anak,” kenang Wanti.

Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. “Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah,” kata Helen yang mulai mulai mengajar anak di rumah tahun 2000.

Bukan hal mudah bagi Helen ketika mengajak anaknya bersekolah di rumah. Putra pertamanya, Joey Ongko (14), menolak keluar dari sekolah karena dia takut kehilangan teman-temannya. Helen harus menjawab tiga pertanyaan yang dikeluarkan Joey agar dia mau bergabung.

“Pertanyaannya adalah bagaimana Mama bisa tahan mengajar kami kalau selama ini baru belajar dua jam saja Mama sudah marah-marah. Kedua, jika Mama-Papa mengajar kami, siapa yang mencari uang? Ketiga, kalau ada apa-apa dengan Mama-Papa, siapa yang akan mengajar kami?” tutur Helen menirukan pertanyaan anaknya.
“Pertanyaan yang sulit. Saya sampai minta ditunda satu hari untuk menjawab itu. Lalu, saya katakan padanya, justru dengan bersekolah di rumah Mama mempersiapkan kamu dan adik-adik untuk mandiri. Jika suatu ketika Mama-Papa tidak ada, kalian sudah tahu apa yang harus dikerjakan, lebih mandiri. Mendengar jawaban itu, dia menerima. Setelah mengajar sendiri di rumah, ternyata saya jadi lebih sabar,” ungkap Helen.

PERTAMA kali menjalani bersekolah di rumah, Helen tidak merasa kesulitan. Dia ajak ketiga anaknya membaca biografi Abraham Lincoln, lalu mereka berdiskusi dengan topik mengapa Abraham Lincoln bisa menjadi orang hebat.

“Dari sana mereka lihat, untuk menjadi orang hebat dia harus menjadi orang yang jujur dan turun ke bawah membela kepentingan orang lain. Selesai satu buku, kami membaca buku yang lain,” cerita Helen yang bekerja sebagai pengacara.

Untuk pelajaran matematika, semula anak-anaknya tidak tertarik. Helen mencari akal dengan bermain perang-perangan yang memang disukai anaknya. Dalam perang, untuk bisa menang jumlah tentaranya harus banyak. Kalau bisa, lebih banyak dari musuh. Untuk tahu apakah tentaranya sudah banyak atau belum, dia mesti menghitung. Dari permainan ini anak-anaknya bisa mengerti tujuan belajar matematika.

Wanti, karena telah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada di AS, mempunyai materi yang siap pakai. Dia datangkan kurikulum dan buku-buku dari AS yang memang ditujukan untuk belajar mandiri di rumah. Kemudian, dia ubah sebuah kamar menjadi ruang kelas.

“Saya duduk di tengah, lalu dua anak di samping kiri, dan dua anak lagi di samping kanan. Buku-buku yang menunjang pelajaran saya letakkan di rak dinding. Buku-buku itu dipakai untuk membedah sebuah masalah, lalu kami diskusikan bersama. Mereka juga bisa membuka internet untuk mencari bahan yang diperlukan,” kata Wanti.
Pelajaran yang diberikan adalah matematika, bahasa Inggris, sejarah dunia, sains, dan budi pekerti. Untuk matematika dan bahasa Inggris, Wanti mengajar anak satu per satu. Sedangkan untuk pelajaran lainnya digabungkan bersama. “Saya ambil maksimum. Untuk anak bungsu, saya biarkan sampai seberapa jauh dia bisa menangkap,” kata Wanti yang menetapkan pukul 08.00 sampai 12.00 merupakan jam sekolah. Di luar jam itu, anak bebas mau melakukan apa saja. Mereka bisa ikut berbagai kursus, di mana mereka bisa bertemu teman sebaya.

Namun, tetap saja sebagian besar waktu dihabiskan bersama anggota keluarga. “Walaupun belajar, kami sangat santai dan bergembira karena suasananya tanpa tekanan. Hubungan keluarga pun semakin akrab,” kata Wanti.

Istri Joseph, Lilies Tjoandi, menambahkan, dengan bersekolah di rumah dia bisa mengetahui kekuatan masing-masing anak. “Setiap anak itu berbeda, kita tidak bisa menyamaratakan mereka seperti yang dilakukan sekolah umum. Dengan terjun sendiri, kita tahu bagaimana mereka sebenarnya,” ungkap Lilies

Dengan bersekolah di rumah, para orangtua juga mempunyai waktu yang fleksibel. Mereka tidak akan pindah ke topik lain jika anak-anak belum menguasai. Setelah anak-anak siap, baru mereka mengajukan diri untuk ujian. Dari pengalaman mengajar di rumah, menurut Wanti, waktu belajar anak justru lebih pendek dibandingkan sekolah umum. “Umur 16 tahun anak-anak saya sudah selesai SMA,” ujarnya.

Dalam mengerjakan bahan ujian, menurut Wanti kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. “Apakah dia masih mengejar nilai bagus, atau mengajarkan kejujuran pada anak,” kata dia menegaskan.

Kertas ujian itu lalu dikirim kembali ke AS untuk dinilai, dan mendapat sertifikat sehingga murid bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program Internasional.

Kedua anak Wanti lainnya, Timothy (15) dan Lea (14), menjalani sistem belajar campuran, separuh di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid.

BERSEKOLAH di rumah memang belum umum di Indonesia. Fini mengaku bosan setiap kali ditanya sekolah di mana. “Ketika saya jawab homeschooling, mereka bingung. Apa tuh? Saya harus menjelaskan terus. Dulu agak terbeban, tetapi sekarang sudah biasa,” ujar Fini.

Dia mengaku sangat berterima kasih ibunya mengambil keputusan itu karena Fini merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

“Setidaknya saya selalu mengumpulkan tugas-tugas sebelum waktu yang ditetapkan. Sedangkan teman-teman selalu SKS-sistem kebut semalam-dalam mengerjakan tugas. Mereka juga tidak berani bicara, berdiskusi di kelas. Jangankan itu, bertanya saja mereka tidak berani dan sering menyuruh saya bertanya ke dosen. Buat saya, ini aneh karena saya dididik untuk disiplin dan berani mengemukakan pendapat,” kata Fini.

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.

Tetapi, bersekolah di rumah juga memerlukan tanggung jawab dan komitmen tinggi dari orangtua. Sekali terjun, mereka tidak bisa mundur karena sudah merasakan enaknya dekat dengan anak-anak. (Sarie Febriane/m Clara Wresti)

Sumber : Kompas – 13 Maret 2005




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.